Pasukan Gegana yang sudah berhasil membekuk beberapa tersangla teroris, baik dalam keadaan hidup maupun tewas saat penyergapan patut diberi apresiasi. Tapi tugas pemerintah belum selesai sampai di penanganan Polri saja, karena kita harus bertanya “akan diapakan para tersangka yang masih hidup ? apakah selesai diruang tahanan saja hingga vonisnya tiba ? atau bagaimana memberikan pemahaman bagi keluarga yang ditinggalkan ?”. Berikut pandangan para mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian mengenai pentingnya proses deradikalisasi teroris.
Iga DP Nugraha – Sat Brimob Polda Bali & Mahasiswa S2 KIK UI
Tidak cukup jika hanya Polri yang berperan
”Deradikalisasi yang berarti mengembalikan kondisi kejiwaan yang radikal menjadi normal seperti keadaan sebelumnya. Kalau dilihat dari sisi hukum, di Indonesia sangat berkaitan erat dengan agama. Kita juga harus melihat dari sisi manusiawi, sangat ironis jenazah teroris yang ditolak pemakamannya karena titel ”tersangka teroris”-nya yang melekat hingga ia wafat. Setidaknya Polri masih bisa memberdayakan Babinkamtibmas, Polmas dan instansi terkait untuk memberi pemahaman yang benar. Sebenarnya aspek pendukung yang terkait demi keberhasilan deradikalisasi ini sangatlah luas. Seperti misalnya sektor pendidikan. Pemerintah juga harus segera (dalam hal ini Menkopolhukam) membentuk tim khusus, tidak hanya dari Polri, termasuk Depsos, Depdiknas, Deplu dan lainnya untuk melakukan pengetatan dan pemberian pengetahuan mengenai cara penanganan dan antisipasi teroris ini mulai dari tingkat terendah. Faktor yang harus kita khawatirkan juga salah satunya mengenai ruang tahanan yang semestinya terpisah dengan tahanan perkara lainnya, karena proses deradikalisasi tidak akan berjalan jika tersangka teroris ’menularkan’ pemikiran radikal kepada tahanan lainnya”.
Danny Yulianto, SH – Ka Unit Sat 1 Gegana & Mahasiswa PTIK Angk. 54
Jangan beri pemahamam yang salah
”Deradikalisasi yang salah satunya harus memikirkan nasib keluarga tersangka yang ditinggalkan harus menjadi agenda penting dalam impelementasi proses deradikalisasi tersebut. Karena sudah pasti ada ’gap’ dengan masyarakat umum, entah itu cibiran terhadap keluarga yang ditinggalkan hingga penolakan. Karena saat ini pemahaman deradikalisasi belum menyentuh hingga ke akarnya. Pemahaman yang benar harus diberikan oleh seluruh instansi terkait, bahkan ruang khusus harus diupayakan, dan yang terpenting petugas yang mengawasinya juga harus diberi pemahaman cara menangani tahanan teroris ini seperti apa. Polri sudah memberikan back-up dalam bentuk penegakan hukum, sedangkan setelah itu proses antisipasi dan sosialisasi mengenai deradikalisasi yang harus diberdayakan keseluruh lembaga baik dalam bentuk hubungan birokrasi, dimanapun level sosialisasinya.”
Supriadi Rahman – Danki Brimob & Mahasiswa PTIK Angk. 54
Penanganan dan pembinaan khusus menjadi faktor penentu
”Deradikalisasi harus dimulai dari tingkat keluarga. Bahkan menurut saya pribadi, saat ini perlu diberikan tempat dan pola penanganan khusus, baik bagi para tersangka yang sekaligus korban. Dari sektor pendidikan pun juga harus mulai disosialisasikan hingga mendalam, bahkan harus dimulai dari tingkat pendidikan terdasar”
Roger Piri – Danki Brimob & Mahasiswa PTIK Angk. 54
Jangan hanya mengandalkan Polri dalam penanganannya
”Terlepas dari keterkaitan beberapa pihak, termasuk dari pemerintahnya, sebenarnya jangan hanya mengandalkan Polri. Polri sudah menangani pada tahap awal, tapi belum di-follow up ke pihak keluarga tersangka. Tetap, yang menjadi masalah utama adalah dukungan anggaran dari pemerintah. Dan yang perlu kita ketahui, para teroris ini melakukan rekrutment orang-orang terpilih untuk dijadikan ’pengantin’ mulai dari tingkat pendidikan terendah hingga yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi.”
>>> Ryan/Rudut
Comments
reply this post
January 18, 2010 by Pengunjung, 25 weeks 1 day ago
Don't look for success if you want it, merely do what you love and believe in, and result will come with our professional custom term paper writing service.